Tips Memilih Kemasan Makanan Yang Baik dan Benar

Kemasan yang terbuat dari kaca, gelas atau keramik cenderung lebih aman. Kalaupun ingin memilih kemasan plastik, pilih yang berlabel food grade dan kode daur ulang.

Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) memperingatkan masyarakat mengenai penggunaan kemasan pangan yang bisa menganggu kesehatan, yang mungkin jarang terpikirkan.


"Selama ini, kalau berbicara bahan berbahaya, kita hanya terpikir boraks, formalin, atau rhodamine. Kita jarang memerhatikan kemasan pangan," kata Direktur Pengawasan Produk dan Bahan Berbahaya BPOM, Mustofa, Rabu (3/10).

Kemasan yang termasuk definisi berbahaya sendiri, menurutnya, adalah kemasan yang mengandung bahan berbahaya atau dapat melepaskan cemaran yang membahayakan manusia.

"Bayangkan jika produknya sendiri tidak berbahaya, tetapi begitu dikemas, kemasannya melepaskan senyawa berbahaya," kata Mustofa.

Untuk itu, lanjut dia, ada beberapa tips yang harus diperhatikan dalam memilih kemasan pangan. Menurutnya, lebih baik mengutamakan kemasan yang terbuat dari kaca, gelas atau keramik, karena cenderung lebih aman.

Kemasan plastik bisa juga dipilih, selama mencantumkan label tara pangan (food grade) dan kode daur ulang.

Mustofa mengatakan, sebaiknya pilih kemasan plastik yang warnanya tidak menyolok, karena kebanyakan pewarna yang tara pangan akan luntur lama-kelamaan.

Jika warna kemasan terlalu menyolok, maka menurutnya kemungkinan kemasan tersebut menggunakan kemasan yang tidak cocok untuk makanan.

"Kalau bisa, hindari penggunaan plastik untuk merebus makanan seperti ketupat," katanya.

Penggunaan kemasan pangan, kata Mustofa lagi, juga harus diperhatikan. Kantong kresek terutama yang berwarna hitam, sebaiknya tidak bersentuhan langsung dengan makanan siap santap, karena kebanyakan kantong kresek berwarna merupakan plastik daur ulang.

"Kita tidak tahu riwayat penggunaannya, bisa saja bekas wadah pestisida, limbah rumah sakit, kotoran hewan atau manusia, atau bekas limbah logam berat," katanya.

Mustofa juga menganjurkan masyarakat untuk meminimalisir penggunaan Polyvinyl Chloride (PVC) untuk makanan berminyak atau mengandung alkohol dan bersuhu panas. PVC biasanya ditunjukkan dengan nomor 3 di bagian bawah kemasan.

Plastik PVC yang sering digunakan untuk wadah bening nasi uduk atau mie goreng ini, menurut Mustofa lagi, bersifat karsinogen, serta telah ditemukan kasus kanker pada manusia akibat penggunaan PVC yang tidak tepat.


0 komentar:

Posting Komentar